Walkability

sains di balik kota yang bisa dijalaki kaki dan hubungannya dengan umur panjang

Walkability
I

Pernahkah kita berdiri di pinggir jalan raya yang bising, melihat trotoar yang dikuasai pedagang kaki lima atau sepeda motor, lalu berpikir: "Mending naik ojek online saja deh"? Saya sering sekali merasa begitu. Kita hidup di masa di mana sekadar berjalan kaki dari stasiun ke kantor terasa seperti olahraga ekstrem. Keringat bercucuran, debu beterbangan, dan nyawa serasa terancam oleh kendaraan yang melintas. Tapi, mari bayangkan sebuah skenario lain. Bagaimana jika saya memberi tahu teman-teman bahwa rahasia umur panjang, otak yang tajam, dan kebahagiaan harian sebenarnya tersembunyi di trotoar yang layak? Hari ini, mari kita bicarakan sesuatu yang belakangan ini sering diperbincangkan di dunia desain tata kota, yaitu walkability.

II

Sebenarnya, sejarah mencatat bahwa manusia berevolusi untuk menjadi pejalan kaki yang sangat tangguh. Nenek moyang kita berjalan belasan kilometer sehari tanpa sepatu lari yang mahal atau aplikasi penghitung langkah. Lalu, datanglah revolusi industri dan obsesi kita pada kendaraan bermotor. Perlahan tapi pasti, kota-kota modern dirancang bukan untuk manusia, melainkan untuk mobil. Secara psikologis, ini menciptakan apa yang disebut friction atau hambatan. Otak kita secara alami dirancang untuk selalu menghemat energi. Kalau trotoarnya berlubang, cuacanya panas terik, dan tidak ada pohon peneduh, otak kita otomatis akan mengirim sinyal bahaya: "Jangan jalan kaki, itu mengancam nyawa dan bikin capek." Jadi, ini bukan karena kita tiba-tiba menjadi generasi yang malas. Lingkunganlah yang secara sistematis mendesain kemalasan kita. Sebuah kota dengan tingkat walkability yang tinggi membalikkan logika ini sepenuhnya. Kota tersebut menghilangkan hambatan, membuat berjalan kaki menjadi pilihan yang paling masuk akal, aman, dan bahkan menyenangkan. Tapi, apa efek nyatanya jika kita tinggal di kota seperti itu?

III

Saat kita mendengar kata sehat, kita biasanya langsung membayangkan gym yang wangi, suplemen mahal, atau kelas lari maraton di akhir pekan. Tapi coba kita perhatikan penduduk di Blue Zones. Ini adalah tempat-tempat di dunia di mana orang biasa hidup sehat hingga usia 100 tahun, seperti Okinawa di Jepang atau Sardinia di Italia. Kebanyakan dari mereka jarang atau bahkan tidak pernah pergi ke gym. Lalu, apa rahasianya? Jawabannya justru ada pada rutinitas harian yang sering tidak kita sadari. Berjalan ke pasar, menyapa tetangga di taman kota, atau mampir ke kedai kopi lokal. Ada sebuah fenomena biologis dan psikologis yang unik yang terjadi ketika kita tinggal di kota yang bisa dijelajahi dengan berjalan kaki. Ini bukan sekadar tentang membakar kalori harian. Ada sesuatu yang terjadi jauh di dalam DNA kita, dan di dalam struktur otak kita, ketika kita terus bergerak dalam kecepatan rendah secara konsisten setiap hari. Sesuatu yang bahkan secara ilmiah bisa memperlambat proses penuaan itu sendiri. Pertanyaannya, mekanisme sains misterius seperti apa yang diam-diam bekerja saat kita sekadar jalan kaki santai mencari sarapan?

IV

Mari kita bedah sains kerasnya secara perlahan. Pertama, dalam dunia metabolisme ada konsep yang disebut NEAT atau Non-Exercise Activity Thermogenesis. Ini adalah energi yang kita keluarkan untuk segala hal selain tidur, makan, dan olahraga terprogram. Jalan kaki ke halte bus, menaiki tangga, atau menenteng kantong belanjaan itu termasuk NEAT. Secara mengejutkan, NEAT berkontribusi jauh lebih besar pada kesehatan metabolisme dan pembakaran lemak harian kita dibandingkan sesi lari di treadmill selama satu jam.

Selanjutnya, mari kita zoom in ke tingkat seluler. Ilmuwan genetika menemukan bahwa berjalan kaki secara rutin sangat erat kaitannya dengan panjangnya telomere. Telomere adalah pelindung di ujung kromosom kita, mirip seperti plastik pelindung di ujung tali sepatu. Semakin panjang telomere kita, semakin lambat sel-sel kita menua dan rusak. Artinya, kota yang ramah pejalan kaki secara harfiah memperpanjang usia sel-sel tubuh kita. Ditambah lagi, ada elemen psikologis dan neurologis yang luar biasa. Saat kita berjalan santai di trotoar yang teduh, kadar kortisol (hormon stres utama kita) menurun drastis. Berjalan kaki di ruang publik juga memaksa kita melakukan interaksi mikro dengan manusia lain. Sekadar bertukar senyum dengan penjual koran atau mengangguk pada sesama pejalan kaki ternyata memicu otak melepaskan oksitosin. Hormon pengikat sosial ini terbukti secara medis mampu menurunkan tekanan darah, meningkatkan sistem imun, dan mencegah kepikunan di masa tua.

V

Saya tahu apa yang mungkin teman-teman pikirkan sekarang. Tentu sangat mudah membicarakan semua keajaiban sains ini kalau kita tinggal di Kopenhagen atau Tokyo. Tapi realitanya, kita harus menghadapi jalanan kota kita yang mungkin masih jauh dari kata ideal. Saya sangat berempati dengan rasa frustrasi itu, karena saya pun merasakannya setiap hari. Kita memang tidak bisa menyulap kota kita menjadi surga pejalan kaki dalam semalam. Tapi, pemahaman tentang walkability ini memberi kita kacamata baru untuk melihat tempat tinggal kita. Kita bisa mulai bersuara dan menuntut hak atas fasilitas pejalan kaki yang lebih manusiawi. Atau di tingkat yang lebih personal, kita bisa mulai memaksakan diri mencari rute-rute kecil di sekitar perumahan yang masih aman untuk dieksplorasi dengan berjalan kaki setiap sore. Karena pada akhirnya, berjalan kaki bukan sekadar cara untuk berpindah dari titik A ke titik B. Berjalan kaki adalah cara kita merebut kembali kesehatan kita, merawat kewarasan kita di tengah hiruk-pikuk dunia modern, dan merayakan evolusi tubuh kita yang luar biasa. Mari kita cari satu alasan kecil untuk berjalan kaki hari ini, walau hanya sekadar ke warung di ujung jalan.